Rabu, 08 Juni 2016

Petaka 2

Jam pun menunjukkan pukul 08.00 sekarang waktu yang kutakutkan itu akhirnya tiba juga lembar soal mulai dibagikan dan beberapa anak mulai berdoa dengan khusuknya untuk kelancaran ujian mereka sedangkan aku tak tahu lagi apa yang harus kuperbuat. Menyedihkan sekali bagaimana seorang pria alpha male sepertiku bisa menyerah bahkan sebelum perjuangan itu dimulai. Akhirnya setelah mengumpulkan keberanian dengan penuh kegagahan lembar jawaban itu pun kubuka. Aaakh semuanya bertambah sulit bagiku untuk hari ini, ketika aku melihat soalnya jujur aku melihat bahwa sebenarnya ini bukanlah soal yang seharusnya kucemaskan dan aku pasti bisa melakukannya. Tapi sayang semua kata-kata itu harus kututup dengan kata-kata “ya bisa jika semalam aku belajar”. Dengan pengetahuan seadanya aku mulai mengerjakan soal-soal jahanam tersebut. Beberapa soal masih dapat kujawab dengan instingku dan beberapa pilihan ganda lainnya masih bisa kukerjakan dengan bantuan kancing bajuku. Ketika masuk kesoal essay ketika kancing bajuku tak lagi mempunyai kuasa untuk membantuku menjawab soal-soal ujian ini, keringatku mulai bercucuran, jantungku semakin berdetak kencang dan kepala ku mulai dipenuhi dengan suara yang melontarkan bermacam-macam sumpah serapah. Ini tidak lucu kalau aku harus dapat nilai yang tidak akan lebih dari 3 untuk UTS pertamaku ini, aku tidak ingin mendapat gelar Bodoh untuk ini. Gelar jomblo saja sudah cukup bagiku untuk memegang dua gelar tersebut secara bersamaan terlalu berat bagiku.
Setelah berpikir keras dan sama sekali tak menemukan solusi untuk soal-soal jahanam ini akhirnya aku memutuskan mengumpulkan keberanianku untuk kembali pada rencana awal. Aku akan meminjam naskah pemikiran teman yang duduk didepanku. Yap, dialah Annur seorang pria jenius yang berpura-pura bodoh dalam menjalani kehidupannya. Dan percayalah dia berhasil mendapatkan beberapa previlege yang takkan kalian percaya untuk perannya tersebut. Annur adalah pria  yang menjadi andalan ku dan separuh isi kelas ini selama mengahadapi semua ujian ini. Setelah mengumpulkan semua keberanian yang ku punya dan melihat situasi dan kondisi akhirnya aku memberanikan diri untuk meminjam naskah pemikiran Annur “ Nur, pinjem lembar jawaban lu nur bentar aja” bisikku. Tanpa menjawab Annur dengan sigapnya menyerahkan naskah tersebut kemejaku dan alhamdulillah naskah tersebut berhasil mendarat dengan sempurna di mejaku. Betapa senangnya hatiku saat itu karena memikirkan bahwa untuk semester ini gelar bodoh itu tak akan melekat padaku setelah ujian ini. Dengan sigap aku langsung mengerjakan semua soal essay yang ada pada naskahku untuk aku cocokkan dengan naskah yang dimiliki Annur. Pikiranku sudah mulai tenang sekarang dan sikap ku mulai santai bahkan mungkin terlalu santai sehingga mungkin terkesan dibuat-buat untuk mencoba terlihat santai. Dan tanpa kusadari saat itulah buk Hendar mulai mencurigai gerak gerikku yang mencurigakan itu.
Dia terus melihatku dan memperhatikanku. Akh gawat, kenapa ini ? dia tidak mungkin tetap menatapku karena ketampananku karena baru-baru ini kusadari bahwa ketampananku yang selama ini digaungkan-gaungkan oleh orangtuaku tidak lebih dari sebuah kebohongan besar. Hal tersebut aku ketahui setelah Maemunah menolak cintaku dengan mengatakan “your face far away” (baca=muke lu jauh) hal tersebut sangat menyakitkan karena aku harus berusaha keras untuk mentranslatekan dulu kalimat penolakannya tersebut sebelum aku bisa mengetahui rasa sakitnya penolakan itu sendiri. Aaargh aku benci Maemunah tapi sekarang bukan hal itu yang harus kupikirkan. Aku mulai berpikir lagi bagaimana supaya aku tak lagi dicurigai oleh buk Hendar hal ini harus aku lakukan karena naskah Annur masih berada ditanganku, kalau sampai buk Hendar tahu naskah Annur itu ada ditanganku maka hancurlah masa muda Sma ku yang kucita-citakan indah ini. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke toilet sebentar agar buk hendar bisa melupakanku sejenak dan bisa mengalihkan pandangannya pada jomblo-jomblo lain yang bertebaran di kelas tersebut. “Buk, saya mau izin ke WC” ucapku sambil berjalan mendekati meja buk Hendar. Buk Hendar tidak mengatakan satu katapun, dia hanya menganggukkan kepalanya sembari mata besar dan mengintimidasinya itu tetap menatap tajam kepadaku. Perasaanku sungguh tak enak sembari aku berjalan ke WC aku berpikir tentang apa yang sedang dipikirkan oleh buk Hendar sekarang ? Kenapa tatapannya begitu mengintimidasi ? Apakah dia ibu Maemunah yang merasa terganggu dengan diriku yang selalu berusaha mengejar anaknya ? aakh, tidak mungkin, ibu Maemunah kan bukan seorang guru gumamku sendiri dengan bodohnya. Untuk pertama kalinya aku tidak tenang berlama-lama untuk izin keluar kelas padahal biasanya ini adalah moment yang paling kusukai selain jam istirahat dan jam kosong. Akhirnya aku memutuskan untuk segera kembali ke kelas dan berharap buk Hendar sudah memutuskan untuk melupakanku dan move on walaupun aku tahu itu tidak mudah tapi buk Hendar pasti bisa move on, ayolah buk bukan hanya aku lelaki jomblo di kelas itu jadi lupakan aku buk aku tidak nyaman dengan semua perhatianmu itu.
Sesampainya di depan kelas semua kecemasankupun menemukan alasannya. Buk Hendar sekarang tengah berdiri dimejaku dan memegang dua buah lembar jawaban yang mana satu adalah milkku dan yang satunya lagi milik Annur. Suasana kelas begitu hening, semua mata manusia di kelas tersebut kini tengah menatap kepadaku dan aku tak tahu apa yang mereka pikirkan sekarang apakah mereka akan iba padaku atau kini mereka tengah memandang rendah kepadaku yang melakukan tindakan tercela ini. Aku hanya berdiri dengan tatapan dan pikiran yang kosong masih tak percaya akan apa yang sedang terjadi.
“AKBAR, ANNUR kalian sekarang juga ikut saya ke Ruang Guru yang lainnya kumpulkan lembar jawabannya sekarang” Buk Hendar berteriak. Sekarang dia tampak begitu marah, matanya yang sebelumnya  mengintimidasi  sekarang berubah menjadi mata yang siap membunuh masa depanku. Badanku terasa melayang aku masih tak percaya semua hal ini sekarang terjadi, sungguh dalam hati aku tengah menangis dan berteriak sekarang dan mengumpat dengan beribu sumpah serapah dan bertanya-tanya kepada Tuhan kenapa hal ini terjadi TUHAAAAN ?. Seisi kelas tampak prihatin padaku sekarang mereka menatapku dengan mata yang seakan mengatakan “  Kasihan Akbar” melihat mereka membuat dadaku semakin sesak. Aku tak tahu bagaimana hidupku akan berjalan setelah ini aku telah mencontek di sekolah yang mempunyai moto utama bahwa “Mencontek itu HARAM” aku tak tahu dosa besar apa lagi yang bisa aku lakukan selain ini. Namun mataku sekarang berhenti kepada Annur yang tampak tak kalah pucatnya denganku, sekarang dia berdiri dan mulai berjalan keluar kelas menuju arahku dan  melewatiku begitu saja, Annur berjalan dengan langkah yang sangat berat dan kepala yang tertunduk. Aakh tidak, apa yang telah kulakukan tindakanku kali ini tidak hanya menyusahkanku tapi juga telah menyusahkan orang lain. Saat itu sungguh aku merasa bersalah kepada Annur, sungguh aku tak enak kepadanya karena telah membawanya pada situsi rumit seperti ini. Aku sekarang hanya bisa berjalan dibelakangnya menuju ke Ruang Guru aku begitu kasihan kepadanya sampai aku hampir lupa untuk mengasihani diriku sendiri.
Kami berdua akhirnya sampai di ruang guru dan seperti ruang guru pada umumnya, rungan tersebut berisi para guru. Semua mata guru tersebut mulai tertuju pada kami berdua yang bukannya pulang setelah ujian namun malah mampir ke ruang guru dahulu dan ditemani bu Hendar pula. Akhirnya seorang guru bertanya “ada masalah apa buk hendar ? “. “ lihat ini dua orang siswa baru yang mau merusak karaketer sekolah kita, mereka telah mencontek saat ujian dan yang paling saya benci mereka sok santai saat ujian tersebut”. Ujar Buk Hendar dengan bersemangat, ya bersemangat untuk membunuhku dan sampai sekarang aku masih tidak mengerti mengapa dia begitu tidak suka melihatku bersikap santai. Lalu guru tersebut yang akhirnya ku ketahui bernama buk Hartati hanya menggelengkan kepalanya dan tampak raut muka kecewa dari wajahnya ya mungkin beliau sedikit kecewa dengan memilki murid seperti kami ini. “ Annur, kenapa kamu mau memberikan contekan kepada akbar ? apakah ini sudah sering kamu lakukan ? kamu merasa hebat ? “. Annur hanya diam dan tertunduk mendengar pertanyaan dari buk Hendar  tersebut dan dia terlihat seakan masih tak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Saat itu perasaan bersalahku semakin bertambah saja dan entah dengan bodoh atau gagahnya akhirnya aku mengatakan “ Maaf buk, saya memaksa Annur untuk memberikan jawabannya kepada saya, awalnya dia tidak mau tapi saya memaksanya”. “ ooh ternyata kita punya preman disini, kamu mau jadi preman ya ? mentang-mentang badanmu besar ?”. ucap Buk hendar. Okey buk, badanku besar namun kali ini agak terasa sakit mendengar kata-kata tersebut karena aku dituduh memiliki badan besar hanya untuk menjadi seorang preman padahal asal ibuk tahu tak pernah terpikir olehku untuk memiliki badan sebesar ini tapi sudahlah kalimat itu tak akan kuucapkan saat ini. “ Annur kalau lain kali kamu dipaksa kamu jangan mau, kalau ada yang mengancam segera laporkan ke ibuk. Baiklah sekarang kita tahu bagaimana ceritanya kamu silahkan pulang, kita sudah tahu siapa yang tidak benar disini”. Ucap buk Hendar kepada Annur yang setelah itu langsung diikuti oleh Annur. Annur  pulang dan hatiku sedikit legah karena aku sudah melepaskan satu beban rasa bersalahku kepada Annur sedikit berkurang. Namun buruknya sekarang perhatian buk hendar akan secara penuh kembali diberikan kepadaku. Hari itu aku dimarahi habis-habisan oleh buk Hendar dan mulai hari itu jugalah nama baik kurusak serusak-rusaknya disekolah yang mempunyai moto “ mencontek itu haram”  masalah ini mempunyai efek berkelanjutan dalam hidupku di sekolah dan aku tidak mendapatkan gelar bodoh dan jomblo saja. Namun hari ini aku mendapatkan tiga gelar sekaligus “bodoh, tukang contek dan jomblo”. Namun percayalah ini bukan akhir petaka dalam hidupku.